Shama (Murai Batu)

Trushes
Shama (Murai Batu)

Secara umum jenis-jenis Murai Batu adalah:
  • Murai Medan
    Di Medan (Sumatra Utara), selain yang berasal dari Bukit Lawang yang paling populer, juga masih terdapat jenis (varian) Murai Batu, yang tersebar di Sumatra Utara.
    Berikut beberapa jenis Murai Batu yang terdapat di Sumatra Utara.
    • Murai Medan (Bukit Lawang, Bohorok)
      berasal dari Bukit Lawang, Bohorok hingga ke kaki gunung Leuser, Sumatra Utara. Ekor tipis melengkung, panjang 27 - 30 cm, ujung ekor biasanya lancip. Suara keras dan nafas panjang menjadi andalannya di setiap ajang perlombaan burung. Konon Murai jenis ini, yang asli tangkapan dewasa hutan, memiliki suara orang utan yang memang banyak hidup di alam Bukit Lawang dan sekitar kaki gunung Leuser.
      Murai jenis inilah yang sering disebut sebagai Murai Medan.
    • Murai Nias
      hidup di pulau Nias, Sumatra Utara. Panjang ekor 22 - 27 cm. Ekor keseluruhan berwarna hitam, panjang ekor 22 - 27 cm, agak melengkung namun tidak selentur Murai Bukit Lawang. 
      Murai Nias kadang disebut sebagai Murai Medan-Nias.
    • Murai Mandailing
      hidup di daerah Mandailing-Natal, Tapanuli Selatan, Padang Bolak sampai dekat perbatasan Sumatra Barat. Postur tubuh agak besar, ekor tipis panjang agak melengkung, pada bagian ujung ekor agak mekar. Murai Mandailing disebut juga sebagai Murai Medan-Mandailing, atau bagi masyarakat setempat disebut sebagai Murai Mandailing atau dalam bahasa lokal disebut Pikala.
      pic source: http://balakdigdaya.blogspot.com/
    • Selain itu ada juga yang berasal dari Deli Serdang (Sibolangit dan sekitarnya), Langkat dan Asahan.
  • Murai Aceh
    Di Aceh, juga terdapat beberapa jenis Murai Batu, yang kualitas dan bentuk hampir sama dengan Murai Batu asal Medan, Sumatra Utara.
    Berikut beberapa jenis Murai Batu asal Aceh.
    • Murai Aceh

      berasal dari daerah kaki gunung Leuser, Aceh. Ekor tipis agak melengkung, panjang ekor berkisar antara 25 - 30 cm. Kemampuan berkicau yang baik dan keras membuat Murai Aceh juga menjadi salah satu andalannya.
    • Murai Tangse (Murai Pidie)Murai jenis ini merupakan salah satu andalan Murai Batu asal Pidie, Aceh, yang hidup di dataran tinggi Bukit Barisan pada ketinggian 600-1200 m, tepatnya di wilayah Tangse di kabupaten Pidie.
    • Murai Sinabang (Simalur)
    • Murai Lasia
    • Murai Lampuyang
    • Murai Sabang
    • Murai Ujung Pancu
  • Murai Padang
    hidup di daerah Pasaman, Sumatra Barat, dekat dengan wilayah perbatasan Sumatra Utara.
  • Murai Mentawai
    hidup di hutan pulau Mentawai, Sumatra Barat. Murai Mentawai memiliki postur yang mirip dengan Murai Nias, dan diduga Murai Mentawai adalah Murai Nias yang bermigrasi ke pulau Mentawai.
  • Murai Jambi
    hidup di hutan Bengkulu, Sumatra Selatan, Jambi. Murai Jambi memiliki postur tubuh dan karakter yang mirip dengan Murai Padang, oleh karena itu Murai Jambi kadang dianggap sama dengan Murai Padang.
  • Murai Lahat (Palembang),
    hidup di hutan Lahat, Sumatra Selatan.
  • Murai Enggano
    hidup di hutan pulau Enggano, Bengkulu.
  • Murai Lampung
    hidup di Krakatau, Lampung. Ukuran tubuh lebih besar dari Murai Medan. Panjang ekor 15 - 20 cm.
  • Murai Palangka (Murai Borneo),
    panjang ekor 15 - 18 cm. Hidup di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
  • Murai Banjar (Murai Borneo),
    jenis ini paling populer di Kalimantan, karena sering merajai berbagai lomba di Kalimantan. Penyebaran di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Panjang ekor 10 - 12 cm.
  • Larwo (Murai Jawa),
    hidup di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Tubuh jauh lebih kecil dari murai medan. Jenis ini sudah sangat langka ditemukan. Panjang ekor 8 - 10 cm.

Selain dari jenis Murai Batu di atas, masih ada Murai Batu yang berasal dari negeri tetangga, yaitu :
  • Murai Malaysia,
    wilayah Penang. Ekor tipis dan panjang sekitar 30 - 33 cm dan postur tubuh lebih besar dari murai medan.
  • Murai Thailand,
    hidup di perbatasan Thailand dan Malaysia, tubuh lebih besar dari murai medan, panjang ekor 32 - 35 cm dan warna hitam mengkilat indigo (kebiru-biruan).
  • Murai Filipina,
    wilayah Luzon dan Catanduanes. Jenis ini lebih tepat disebut Murai-hias, karena memiliki warna tubuh yang sangat indah.
  • Murai India
  • Murai Andaman
  • Murai Vietnam

Species
terdiri dari 7 species

  1. Copsychus malabaricus, (White Rumped Shama), (26 subspecies)
  2. Copsychus luzoniensis, (White Browed Shama), (4 subspecies)
  3. Copsychus niger, (White Vented Shama), (monotypic)
  4. Copsychus cebuensis, (Black Shama), (monotypic)
  5. Copsychus stricklandii, (White Capped Shama, Strickland Shama)
  6. Copsychus albiventris, (Andaman Shama)
  7. Trichixos pyrropygus, (Orange Tailed Shama, Rufous Tailed Shama), (monotypic)
    jenis ini, satu-satunya keluarga Murai Batu yang tidak berada dalam genus Copsychus.


Related
~ http://planetburung.blogspot.com
~ http://balakdigdaya.blogspot.com

Copsychus malabaricus tricolor

Trushes
Shama (Murai Batu)

 Family
Turdidae / Muscicapidae 
 Genus
Copsychus 
 Species
Copsychus malabaricus
ssp tricolor (Vieillot, 1818)
 varian
~ tricolor (tricolor)
~ tricolor (abbotti)

 Nama
~ White Rumped Shama
~ Murai Sumatra
 Nama lain
Kacer Filipin
 Penyebaran
Malaysia, Sumatra, kepulauan Natuna dan Anamba

Copsychus malabaricus ssp tricolor
Di Indonesia, Murai-batu jenis tricolor ini lah yang paling populer dan paling diminati, bukan hanya karena kemampuan berkicaunya yang hebat, tapi juga karena ekornya yang panjang, dari sekitar 22 cm hingga 28 cm, bahkan ada yang mencapai 30 cm. Panjang ekornya yang indah ini melebihi panjang tubuhnya, sehingga membuat penampilannya sangat memukau, selain itu kicauannya yang merdu dan keras (nyaring).

Murai batu tricolor ini lebih dikenal dengan nama umum Murai Batu Sumatra (atau Murai Sumatra saja), tapi tergantung dari daerah mana dia berasal maka Murai Batu Sumatra pun memiliki sebutan berdasarkan nama daerahnya. Uniknya Murai Sumatra dari berbagai daerah sumatra memiliki perbedaan-perbedaan, yang menjadi ciri khasnya. Kalau soal kualitas suara, bisa dikatakan Murai Sumatra dari berbagai daerah ini memiliki kemampuan berkicau yang sama baiknya.

Murai Batu Sumatra (Copsychus malabaricus tricolor), terdiri dari beberapa varian, yaitu:
  • Murai Batu Aceh
    Murai Aceh

    Hidup di sekitar kaki gunung Leuser di wilayah perbatasan Aceh dan Sumatra Utara, ukuran tubuh kecil dan ekor panjang berkisar antara 22 s/d. 28 cm.

    Murai batu Aceh sendiri memiliki beberapa jenis lagi, yang berasal dari berbagai daerah di Aceh, yaitu:
    • Murai batu Sinabang (Simalur)
      Berasal dari pulau Simalur (Simeuleu).
      Ukuran tubuh agak kecil mirip dengan Murai Medan, tapi ekor lebih pendek. Warna ekor keseluruhan warna hitam polos mirip dengan Murai Nias.
    • Murai batu Lasia
      Berasal dari pulau Lasia, Aceh. Sebuah pulau yang berada di tenggara pulau Simalur (Simeulue). Postur mirip dengan Murai Sinabang, namun ukuran Murai Lasia sedikit lebih besar.
      Ekornya juga lebih panjang. Pada ujung ekor terdapat noktah putih balak.
    • Murai batu Lampuyang
      Berasal dari daerah Lampuyang, Berasal dari pulau Breuh, Lampuyang, Aceh. Murai Lampuyang ini memiliki keunikan, pada ekornya 3 pasang hitam polos dan 3 pasang lainnya terdapat noktah putih yang tebal,sekitar 1 cm lebih. Model ekor seperti ini sering disebut dengan "balak 6".
    • Murai batu Sabang
      Berasal dari daerah Sabang. Postur tubuh dan ekornya sama dengan Murai Lampuyang, tapi ekor lebih panjang.
      Murai Sabang, mulai jarang ditemukan. Diperkirakan populasinya tinggal sedikit, akibat perburuan liar di hutan Sabang.
    • Murai batu Ujung Pancu
  • Murai Batu Medan

    Hidup berhabitat di daerah bukit Lawang, Bohorok hingga ke kaki gunung Leuser, ukuran tubuh paling kecil dan ekor panjang berkisar antara 25 s.d. 30 cm dan ekor Murai Medan paling lentur. Untuk tangkapan hutan dari wilayah Bukit Lawang, kadang ada yang memiliki suara dasar orangutan. Ekor tipis dan paling lentur melengkung ke bawah, panjang ekor berkisar antara 25- 30 cm. Kicauan sangat bervariasi. Karakter tempur nya dahsyat serta mental baja dengan volume suara di atas rata-rata Murai Batu yang ada di Indonesia. Oleh karena itu Murai Medan yang berasal dari bukit Lawang, Bohorok memiliki harga paling mahal, dan harga bakalannya pun mahal.
    Oleh karena itu, Murai Batu yang berasal dari luar wilayah Medan juga disebut sebagai Murai Medan, seperti yang berasal dari wilayah Aceh atau dari Kisaran dan daerah lainnya, apabila didrop masuk ke Medan disebut-sebut juga sebagai Murai Medan, mungkin untuk ikut mendongkrak harganya.
  • Murai Batu Mandailing
    Ada juga Murai Medan yang berasal dari daerah Tapanuli Selatan, Mandailing Natal hingga dekat perbatasan dengan Sumatra Barat. Murai Mandailing sering disebut juga sebagai Murai Medan-Mandailing, namun masyarakat setempat di daerah Mandailing-Natal menyebutnya sebagai Murai Mandailing. Ekor tidak sepanjang Murai Medan-Bohorok, ekor agak kaku dan lebih mirip dengan Murai Padang.


  • Murai Batu Nias

    Murai Sumatra juga ada yang berasal dari pulau Nias. Diduga bahwa Murai Nias bukanlah merupakan subspecies dari Copsychus malabaricus. Karena terdapat perbedaan mencolok pada bentuk ekor Murai Nias yang tidak ada warna putihnya, karena berwarna hitam polos keseluruhan. Panjang ekor lumayan panjang berkisar antara 20 s/d 26 cm.
    Burung Murai Nias ini berhabitat di kepulauan Nias, Sumatra Utara.
    Murai Batu Nias, kadang disebut juga sebagai Murai Medan-Nias.
  • Murai Batu Pagai (Mentawai)

    Murai Pagai, kadang disebut juga sebagai Murai Mentawai. Murai Batu Pagai berhabitat di pulau Mentawai. Postur fisik dan ciri-ciri Murai Pagai ini sangat mirip dengan Murai Nias.
    Banyak yang berpendapat kemungkinan Murai Pagai adalah Murai Nias yang terbang bermigrasi ke pulau Mentawai atau bisa juga dari pulau Mentawai bermigrasi ke pulau Nias.
  • Murai Batu Padang
     
    Kebanyakan berasal dari daerah Pasaman (habitat hutan Panti, Kumpulan, Lubuk Sikaping, Bonjol dan Rao), Padang Tujuh, Ujung Gading dan Muaro Kiawai yang berbatasan dengan Mandailing Natal provinsi Sumatra Utara ). Berukuran sedikit lebih besar dari Murai Medan, ekor lebih pendek dari Murai Medan.
  • Murai Batu Jambi

    Ukuran dan postur tubuh hampir sama dengan Murai Padang, sehingga kadang disebut sebagai Murai Padang.





  • Murai Batu Palembang (Lahat)

    Ukuran tubuh berkisar di antara Murai Padang dan Murai Lampung, ekor lebih pendek dari Murai Padang. ukuran ekor berkisar antara 18 s/d. 23 cm


  • Murai Batu Lampung

    Hidup di Krakatau, wilayah provinsi Lampung hingga ke arah Bengkulu, memiliki ukuran paling besar di antara Murai Sumatra, ekor sekitar 15 s/d. 17 cm dan ekor agak kaku. Murai Lampung dengan ukuran ekor yang tidak terlalu panjang sering menampilkan kicauan dan gaya yang paling atraktif dibandingkan Murai Sumatra lainnya.

Copsychus malabaricus melanurus

Trushes
Shama (Murai Batu)

 Family
Turdidae / Muscicapidae 
 Genus
Copsychus 
 Species
Copsychus malabaricus
ssp melanurus (Salvadori, 1887)

 Nama
Black-tailed Shama
 Nama lain
Murai-batu Enggano
 Penyebaran
Enggano

Copsychus malabaricus melanurus atau Murai-batu Enggano, adalah jenis Murai-batu yang hidup di pulau Enggano provinsi Bengkulu. Murai Enggano sekilas secara fisik dan karakter hampir mirip dengan Murai Mentawai dan Murai Nias, hanya saja Murai Enggano memiliki ukuran tubuh yang sedikit lebih besar. Tubuh didominasi warna hitam, bagian dada dan perut sampai ke pantat berwarna orange tua atau merah bata. Ekor agak kaku, panjang sekitar 18-20 cm serta berwarna hitam keseluruhan.

Gallery

Copsychus malabaricus ssp melanurus




 ► Video


Copsychus malabaricus malabaricus

Trushes
Shama (Murai Batu)

 Family:
Turdidae / Muscicapidae 
 Genus:
Copsychus 
 Species:
Copsychus malabaricus (Boddaert, 1783)
ssp malabaricus (Scopoli, 1786)

 Nama:
India Shama
 Nama lain:
Murai-batu India
 Penyebaran:
India

Copsychus malabaricus ssp malabaricus, adalah Murai-batu yang terdapat di India. Secara fisik tidak terlalu terlihat perbedaan antara Murai-batu India dengan Murai-batu yang ada di Indonesia (Sumatra). Ekor lurus, sepertinya agak kaku, panjang sekitar 25 - 28 cm. Kaki berwarna merah-jambu cerah. Tubuh berwarna hitam kebiru-biruan mengkilap (indigo).

Gallery

ssp malabaricus
Photographer: vasanthan p.j
(Tamil Nadu-India)


ssp malabaricus
Photographer: ©Girish Ketkar
Masinagudi, Tamil Nadu, India 
3 March 2014
pic source: http://orientalbirdimages.org



Copsychus malabaricus nigricauda

Trushes
Shama (Murai Batu)

Genus: Copsychus
Species: Copsychus malabaricus
Subspecies: nigricauda, (Vorderman, 1893)

Penyebaran: pulau Kangean

ssp nigricauda

Photographer: © Axel Voeltz

Photographer's aviary in Canada. 
Synonyms: Shama Thrush,
Common Shama,

Common Shama Thrush,
White-Rumped Shama,
Andaman Shama (albiventris),
Ceylon Shama (ceylonensis) 









Copsychus malabaricus omissus

Trushes
Shama (Murai Batu)

Genus: Copsychus
Species: Copsychus malabaricus omissus
Synonym: Copsychus malabaricus javanus

Nama lain: Larwo, Murai Jawa
Penyebaran: Indonesia (Jawa Barat dan Jawa Tengah)


Larwo
(ssp javanus)
Untuk species ini, mengalami perubahan nama subspecies, yang sebelumnya Copsychus malabaricus javanus, mengalami perubahan nama subspecies menjadi Copsychus malabaricus omissus.

Varian
terdiri dari 2 varian
  • Copsychus malabaricus omissus (omissus)
  • Copsychus malabaricus omissus (javanus)

Copsychus malabaricus mallopercnus

ssp mallopercnus
Trushes
Shama (Murai Batu)

Genus: Copsychus
Species: Copsychus malabaricus
Subspecies: mallopercnus,

Nama lain: Murai Malaysia
Penyebaran: Malaysia








Copsychus malabaricus indicus

Trushes
Shama (Murai Batu)

Genus: Copsychus
Species: Copsychus malabaricus ssp indicus

Nama lain: Murai Thailand
Penyebaran: Thailand, Nepal, Indochina

ssp indicus
Murai Thailand termasuk salah satu yang dicari para kolektor Murai Batu, karena Murai Thailand memiliki ekor yang sangat panjang. Panjang ekor Murai Thailand konon bisa mencapai lebih dari 30 cm. Dengan penempatan pada kandang berukuran lebih dari 70x70cm, pencapaian ekor dengan panjang lebih dari 30cm akan bisa didapat.

Walaupun Murai Thailand memiliki suara yang tidak kalah dengan Murai Sumatra, tapi dengan ekor yang sangat panjang tentunya akan sangat menguras tenaganya, sehingga ketika diikutsertakan di sebuah kontes perlombaan burung, diyakini burung Murai Thailand akan cepat kelelahan.


Copsychus stricklandii

Trushes
Shama (Murai Batu)

Genus: Copsychus
Species: Copsychus stricklandii, (Motley & Dillwyn, 1855)

Nama: White Capped Shama, Strickland Shama
Nama lain: Murai Kepala Putih, Murai Haji
Penyebaran: Indonesia (Kalimantan) dan Malaysia (Sabah)

Copsychus stricklandii
Copsychus stricklandii, sebelumnya dianggap sebagai subspecies dari Copsychus malabaricus. Saat ini telah dipisahkan menjadi species terpisah, dengan nama ilmiah Copsychus stricklandii.


Subspecies
terdiri dari 2 subspecies

  • Copsychus stricklandii stricklandii
  • Copsychus stricklandii barbourii



Copsychus malabaricus interpositus

ssp interpositus
Trushes
Shama (Murai Batu)

Genus: Copsychus
Species: Copsychus malabaricus ssp interpositus, (Robinson & Kloss, 1922)

Penyebaran: Nepal, India, Myanmar, Yunnan-China, Malaysia (wilayah perbatasan dengan Thailand), Thailand dan Indochina







Copsychus malabaricus leggei

ssp leggei
Trushes
Shama (Murai Batu)

Genus: Copsychus
Species: Copsychus malabaricus ssp leggei, (Whistler, 1941)
Habitat: hutan Sri Lanka







Copsychus albiventris

Trushes
Shama (Murai Batu)

Genus: Copsychus / Muscicapidae
Species: Copsychus albiventris, (Blyth, 1859)

Nama: "Andaman Shama"
Nama lain: Murai Andaman
Penyebaran: kepulauan Andaman, India

Andaman Shama
Copsychus albiventris
Species Copsychus albiventris, adalah Murai batu yang terdapat di kepulauan Andaman, India. Murai jenis ini dikenal dengan nama "Andaman Shama" atau "Murai Andaman".

Sebelumnya species Copsychus albiventris ini dianggap sebagai subspecies dari Copsychus malabaricus, dengan nama subspecies Copsychus malabaricus albiventris.

Copsychus albiventris, sepertinya tidak memiliki ekor seperti sepupunya yang dari Sumatra dan Malaysia. Kaki berwarna kemerahan cerah.



Gallery

Andaman Shama
Copsychus albiventris

27 March 2014
Chidiya Tapu Biological Park,
South Andaman, Andaman Islands

Andaman Shama
Copsychus albiventris



Copsychus luzoniensis

Trushes
Shama (Murai Batu)

Genus: Copsychus
Species: Copsychus luzoniensis

Nama: "White Browed Shama"
Nama lain: Murai Luzon Filipin
Penyebaran: Luzon, Filipin

Copsychus luzoniensis, adalah burung asli Filipina, pernah masuk ke Indonesia, tetapi dengan harga yang sangat tinggi. Dilihat dari penampilan burung ini, rasanya lebih cocok kalau dianggap sebagai burung hias, karena memiliki kombinasi warna yang cantik. Sekilas kalau tampak depan, menyerupai burung Kacer Dada Putih (Copsychus saularis). Di bagian punggung kombinasi warna hitam kebiru-biruan dan warna oranye. Sedangkan di daerah kepala bagian atas berwarna putih. Ekor tidak terlalu panjang, hanya lebih panjang sedikit dari ekor Kacer, tapi lebih pendek dari ekor Murai Batu Borneo. Murai Filipina ini juga memiliki kemampuan bersuara yang baik.


Subspecies
terdiri dari 4 subspecies

  • C. luzoniensis luzoniensis, Kittlitz, 1832 - Luzon, Catanduanes.
  • C. luzoniensis parvimaculatus, McGregor, 1910 - Polillo.
  • C. luzoniensis shemleyi, duPont, 1976 - Marinduque.
  • C. luzoniensis superciliaris, Bourns & Worcester, 1894 - Philippines (Masbate, Negros, Panay, Ticao).

Gallery

(tampak belakang)
(tampak depan)





source

Copsychus malabaricus

Trushes
Shama (Murai Batu)

Copsychus malabaricus
Genus: Copsychus
Species: Copsychus malabaricus

Nama: White Rumped Shama
Nama lain: Murai Batu
Penyebaran: India, Malaysia, Thailand, Indochina dan Indonesia


Di Indonesia lebih dikenal sebagai Murai Batu dan sangat populer untuk berbagai kalangan. Murai Batu ini memiliki suara yang sangat bervariasi, dari lembut sampai sangat dahsyat dan mampu menirukan suara apa saja yang ada di sekelilingnya. Burung Murai Batu ini mempunyai gaya yang khas ketika sedang berkicau, sehingga keberadaannya sangat diminati penggemar atau kolektor burung.
Di Indonesia sendiri terdapat beberapa jenis Murai Batu yang beredar, seperti Murai Batu Medan, Aceh, Lampung, Jambi, Jawa (Larwo) dan Borneo.

Subspecies
terdiri dari 22 subspecies

  1. Copsychus malabaricus albiventris, (Blyth, 1859) - (Andaman); / dipisahkan sebagai species terpisah (Copsychus albiventris) /
  2. Copsychus malabaricus andamanensis, (Andaman, Nicobar)
  3. Copsychus malabaricus barbouri, (Bangs & J. L. Peters, 1927) - (Maratua, Kalimantan Timur)
  4. Copsychus malabaricus eumesus
  5. Copsychus malabaricus indicus, (Baker, 1924) - (Thailand, Nepal, Indochina)
  6. Copsychus malabaricus interpositus, (Robinson & Kloss, 1922) - (Nepal, India, Myanmar, Yunnan-China, Malaysia daerah perbatasan Thailand, Thailand dan Indochina)
  7. Copsychus malabaricus leggei, (Whistler, 1941) - (Sri Lanka)
  8. Copsychus malabaricus macrourus, (J. F. Gmelin, 1789) - (Con Son, Vietnam Selatan)
  9. Copsychus malabaricus malabaricus, (Scopoli, 1786) - (India)
  10. Copsychus malabaricus mallopercnus, (Oberholser, 1923) - (Malaysia)
  11. Copsychus malabaricus melanurus, (Salvadori, 1887) - (Sumatra bagian Barat, Enggano)
  12. Copsychus malabaricus minor, (Swinhoe, 1870) - (Hainan-China)
  13. Copsychus malabaricus mirabilis, (Hoogerwerf, 1962) - (pulau Prinsen)
  14. Copsychus malabaricus nigricauda, (Vorderman, 1893) - (pulau Kangean)
  15. Copsychus malabaricus ochroptilus, (Oberholser, 1917)
  16. Copsychus malabaricus omissus (Hartert, 1902) - (Jawa Barat dan Jawa Tengah)
  17. Copsychus malabaricus opisthisus, (Oberholser, 1912)
  18. Copsychus malabaricus opisthopelus, (Oberholser, 1912)
  19. Copsychus malabaricus pellogynus, (Oberholser, 1923) - (Myanmar, Peninsular)
  20. Copsychus malabaricus stricklandii (White Capped Shama), Motley & Dillwyn, 1855 - (Sabah, Kalimantan); / dipisahkan sebagai species terpisah (Copsychus stricklandii) /
  21. Copsychus malabaricus suavis, P. L. Sclater, 1861 - (Sarawak, Kalimantan)
  22. Copsychus malabaricus tricolor, (Vieillot, 1818) - (Malaysia, Sumatra, Kepulauan Natuna dan Anamba)

Larwo

Trushes
Shama (Murai Batu)

Genus: Copsychus
Species: Copsychus malabaricus javanus / javanicus
Synonym: Copsychus malabaricus omissus

Nama: Larwo, Murai Batu Jawa
Penyebaran: pulau Jawa, Indonesia

Pulau Jawa juga memiliki jenis burung Murai Batu, yang lebih dikenal dengan nama Larwo.
Memiliki ukuran tubuh paling kecil dibanding semua jenis Murai Batu di Indonesia pada umumnya.

Larwo
Copsychus malabaricus javanus
Sebenarnya Larwo ini memiliki kecerdasan dan suara tidak kalah dengan jenis Murai Batu dari Sumatra dan Kalimantan. Sayangnya Larwo ini nyaris dinyatakan punah, akibat perburuan liar terhadap burung ini di alam oleh penangkap burung di pulau Jawa.
Memprihatinkan, karena sampai saat ini belum ada penangkar burung yang tertarik untuk melestarikan dan menangkar burung khas pulau Jawa ini.
Saat ini tidak diketahui apakah masih ada di kalangan penggemar burung kicauan yang masih memelihara burung Larwo ini. Harapan kita mudah-mudahan burung ini tidak benar-benar punah.

Video (diambil dari Youtube)





Trichixos pyrropygus

Trushes (Shama)


 Family
Turdidae

 Genus
Trichixos

 Species
Trichixos pyrropygus ()


 Nama
Orange Tailed Shama / Rufous Tailed Shama
 Nama lain
Murai Rawa
 Penyebaran
Lampung, Sumatra dan Kalimantan, Thailand dan Malaysia


Murai Rawa
(Trichixos pyropygus)


Trichixos pyrropygus adalah species satu-satunya dari genus Trichixos, yang masih kerabat dekat dari Murai Batu. Di Indonesia terdapat di Lampung-Sumatra dan Kalimantan. Di Kalimantan burung ini sering disebut sebagai Murai Rawa. Burung ini sangat jarang ditemui di pasaran. Di habitatnya burung ini tergolong pemalu, sangat susah untuk diteliti atau dipantau di habitatnya, di habitatnya di dalam hutan burung ini akan langsung menjauh apabila melihat manusia, sehingga sangat jarang ditemui sehingga sering dikategorikan sebagai burung langka (akibat tempat hidupnya yang sangat sulit dijangkau oleh manusia). Habitatnya berada di pedalaman hutan-hutan hujan.

Genus Trichixos hanya memiliki 1 species.

Penyebaran : Indonesia (Way Kambas-Lampung), Thailand, Malaysia dan Kalimantan.
(monotypic species)


source